Saturday, March 31, 2018

Facebook buang fitur trending topic

Facebook buang fitur trending topic
Facebook buang fitur trending topic

Facebook dikabarkan pekan depan akan menghapus fitur Trending Topic kepada platform-nya. Hal tadi seperti yang dilaporkan sang CNBC, Senin (4/6). Apa sebab?

BERITA TERKAIT
Akun palsu FB 'Taj Yasin Maimoen' minta sumbangan buat pesta kemenangan
Akun Facebook Taj Yasin dipalsukan buat minta sumbangan pesta warga
Terbuai janji pernikahan, gadis di Surabaya tertipu pria kenalan di FB

Alex Hardiman, kepala divisi info di Facebook memberitahuakn sebab. Menurutnya, keputusan tadi sudah dipertimbangkan matang-matang. Tidak lain adalah langkah pihaknya menekan penyebaran info palsu dalam platform media sosial terbesar ini.

"Kami paham semakin ke sini banyak orang menemukan produk yang ternyata tak lagi bermanfaat. Lagipula, cara orang mengonsumsi info di Facebook pula sudah berubah," pungkasnya.

Ia mengungkap pengguna media sosialnya ini kini lebih cerdas sebagai akibatnya mereka mempunyai kecenderungan skeptis terhadap info-info yang dianggap kurang kredibel. Apalagi, ketika ini pengguna mereka lebih menyukai konten-konten yang berbentuk video.

Sebelumnya, Facebook menjamin, fitur yang dirilis kepada 2014 kemudian menyumbang kurang dari 1,5 persen klik homogen-rat ke penerbit info. Dan buat kini, Facebook tengah menguji opsi terbaik buat bisa menampilkan info & memastikan asal info itu bisa dipercaya.

Facebook sendiri selama beberapa tahun terakhir sudah mengubah layanannya beberapa kali supaya bisa menghindari isu ideologi & politik.

Perlu diketahui bahwa terdapat disparitas antara trending topik yang dimiliki Facebook & Twitter. Perbedaan itu ialah jikalau trending topic di Facebook adalah fitur yang mengumpulkan info terpopuler & bertujuan supaya pengguna bisa melihat info dari asal yang terpercaya & seksama. Sementara di Twitter itu adalah percakapan. [rhm]

Thursday, March 29, 2018

Facebook Blokir Kelompok Buddha Garis Keras Myanmar

Facebook Blokir Kelompok Buddha Garis Keras Myanmar
Facebook Blokir Kelompok Buddha Garis Keras Myanmar

YANGON, KOMPAS.com - Facebook, Kamis (7/6/2018), sudah memasukkan sebuah grup garis keras Buddha Myanmar ke dalam daftar hitam karena kerap mengunggah ujaran kebencian terhadap etnis Rohingya.

Facebook menjadi keliru satu platform media sosial paling populer kepada Myanmar memakai 18 juta pengguna sumber 50 juta penduduk negeri itu.

Penyidik PBB menyebut, Facebook sudah berubah menjadi "binatang buas" kepada Myanmar karena sebagian penggunanya memaki media sosial itu menjadi cara buat menjelaskan ujaran kebencian & memicu kekerasan terhadap etnis Rohingya.

Sebagai respon atas yang akan terjadi inspeksi PBB itu, pekan ini Facebook sudah melakukan kunjungan ke Myanmar.

Baca maupun: Akhirnya Myanmar Sepakat Beri Akses PBB ke Desa Rohingya kepada Rakhine

Hasilnya, Facebook memblokir gerakan nasionalis Buddha, Ma Ba Tha beserta dua orang biksu ternama yang kerap mengeluarkan ujaran kebencian terhadap etnis Rohingya.

"Mereka tidak diizinkan mengguakan Facebook & kami akan menghapus semua akun & konten yang mendukung, memuji atau mewakili kepentingan organisasi atau sejumlah individu ini," istilah Manajer Konten Facebook, David Caragliano.

Facebook maupun memblokir dua biksu radikal Parmaukkha & Thuseitta. Pada Januari lalu hal serupa diberlakukan maupun buat biksu Wirathu.

Namun, para aktivis maisih mengecam Facebook yang dipercaya terlalu lamban menanggapi status-status berisi ujaran kebencian.

Kelambatan Facebook itu membangun sejumlah konten beris ujaran kebencian mampu dibagikan dalam 48 jam sebelum akhirnya dihapus.

"Kami mampu melakukan lebih banyak & kami memang merespon terlalu lamban," istilah wakil presiden kebijakan publik Facebook kepada Asia Pasifik, Simon Milner.

Milner menambahkan, Facebook kini memperbanyak karyawan kepada Myanmar, Singapura, & Bangkok, khususnya yang mampu berbahasa setempat.

Facebook maupun merogoh aneka macam langkah buat mencegah adanya akun palsu & memblokir pengguna yang sudah berkali-kali melakukan pelanggaran.

Perusahaan media sosial itu maupun menegaskan terus mengembangkan sistem bagi penggunanya agar mampu melaporkan konten-konten yang meresahkan.

Baca maupun: Myanmar Klaim Puluhan Warga Rohingya Bersedia Kembali Sukarela

Sementara itu para aktivis Myanmar menyambut baik langkah itu namun meminta agar Facebook jauh lebih transparan lagi.

"Berapa usang ketika yang dibutuhkan buat menghapus konten berbahaya? Berapa banyak orang yang mampu berbahasa Myanmar kepada Facebook?" istilah CEO Phandeeya, Jes Kaliebe Petersen.

"Pengguna berhak buat memahami," tambah Petersen.

Tuesday, March 27, 2018

Facebook Bersalah, Rugi Besar serta Terancam Bubar

Facebook Bersalah, Rugi Besar serta Terancam Bubar
Facebook Bersalah, Rugi Besar & Terancam Bubar

Akibat bocornya data langsung 50 juta Facebooker yang dipakai Cambridge Analytica (CA) buat pemenangan Donald Trump dalam Pilpres 2016, saham Facebook anjlok hingga 6,8 %. Dan nampaknya Facebook terancam bubar. Perjalanan menuruni puncak kejayaan media sosial raksasa ini sedang dimulai.

Betapa tidak. Di usianya yang ke 11, Facebook mengalami masalah pembocoran data paling akbar dalam sejarah media sosial. Penerobosan terhadap 50 juta data langsung secara ilegal tadi, mirip diungkap The New York Times, memungkinkan Cambridge mengekploitasi interaksi digital puluhan juta penggunanya, mengidentifikasi kepribadian mereka selaku pemilih & menghipnotis konduite puluhan juta orang ini---hingga akhirnya berdampak dalam apa yang mereka lakukan dalam bilik bunyi.

Gejala bubarnya FB kelak semakin menguat ketika Mark tidak berhasil meyakinkan dua miliar penggunanya bahwa data langsung mereka yang tersimpan dalam database FB kondusif & tidak disalahgunakan oleh pihak mana pun.

Baca juga: Kita Tidak Bisa Lepas dari Dunia Facebook, Sampai Kapan Main-main dalam Sini?

Ketika masalah ini diungkap ke publik, Sabtu (17/3) lalu, Mark memilih membisu & 'menghilang'. Tapi hari ini, beberapa jam lalu, Mark akhirnya angkat bunyi. Dia mengaku bersalah & berjanji akan memperbaiki produknya supaya kebocoran data pengguna tidak terulang dalam kemudian hari.

 "Kami memiliki tanggung jawab buat melindungi data anda, & jikalau kita tidak dapat maka kami tidak layak buat melayani anda," tulis Zuckerberg dalam akun Facebooknya.

Mark juga merasa perlu merinci pergi kronologi pencurian data oleh Cambridge Analytica yang bersumber dari sebuah aplikasi kuis kepribadian kreasi Aleksandr Kogan.

Aplikasi berbasis Facebook itu sukses menarik minat 300 ribu Facebooker yang beserta sukarela mengizinkan akses ke seluruh data langsung mereka, termasuk beberapa data langsung teman-temannya, sehingga total data yang terkumpul dalam database aplikasi itu mencapai puluhan juta akun!

Harusnya ini terselesaikan dalam 2015!

Sebenarnya, dalam tahun 2015, 3 tahun sebelum Christopher Wylie berkata masalah ini ke media pers, Mark sudah diberitahu oleh jurnalis The Guardian (dia tidak menyebutkan detil pembicaraannya beserta media pers terkemuka Inggris ini) bahwa Kogan menyerahkan data yang dimilikinya tadi ke Cambridge Analytica (CA).

Baca juga: Jangan Kirim Undangan Nikah lewat Medsos atau Grup Percakapan!

Langkah yang diambil Facebook dalam waktu itu artinya menuntut supaya Kogan & CA menghapus seluruh data langsung pengguna Facebook. Dan mereka memenuhi tuntutan tadi. Kasus ditutup. Selesai dalam 2015.

Tapi yah, namanya juga data, mana dapat dihapus begitu saja. Cerita 3 tahun itu terdengar naif, lantaran tidak melibatkan penegak hukum yang dapat mencegah penggunaan data buat melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden paling menegangkan antara Donald Trump vs Hillary Clinton.

Akhir pekan lalu, Mark mengaku baru ngeh, ternyata dia sudah dipecundangi oleh CA yang memakai data dalam tangan buat pemenangan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat 2016.

O iya, buat Enda yang tidak mengikuti kehebohan ini, Christopher Wylie artinya peniup peluitnya. Dia ikut membantu Cambridge Analytica dalam mendapatkan data langsung 50 juta Facebooker & bekerja dalam sana hingga tahun 2014.

Kepada Observer Wylie berkata misteri hitam yang terjadi dalam Cambridge Analytica & bagaimana firma analis data itu mengeksploitasi big data dari Facebook.

"We exploited Facebook to harvest millions of people's profiles. And built models to exploit what we knew about them and sasaran their inner demons. That was the basis the entire company was built on."

Sama mirip yang sedang terjadi dalam Indonesia, waktu itu Wylie sedang berada dalam sebuah perang akbar. Wylie bilang, petinggi Cambridge Analytica menghalalkan seluruh cara buat memenangkan perang tadi. Termasuk menghimpun & mengekploitasi data puluhan juta pengguna Facebook.

Tujuan akhirnya satu: membentuk sebuah mesin yang dapat mengidentifikasi kepribadian para pemilih Amerika Serikat & menghipnotis konduite mereka.

Negara Digital yang Terancam

Sebagai sebuah media jejaring tertutup, Facebook sebenarnya sudah sangat ketat dalam menerapkan peraturan yang melindungi privasi pengguna. Edukasi pun terus dilakukan buat memastikan pengguna mengenali mana wilayah publik & mana wilayah privasi dalam Facebook. Dan bagaimana pengguna dapat memproteksi kabar seputar mereka, sambil menentukan siapa yang boleh & dihentikan kabar tadi.

Baca juga: Bank Indonesia, Bank Sentral Paling Gaul dalam Twitter

Pembatasan & pengetatan itu mulai dilakukan Facebook dalam tahun 2014---sebelum masalah Cambridge Analytica terjadi.

Tapi apa lacur, seperempat penduduk bumi yang setiap hari berinteraksi dalam sini tidak memiliki kapasitas & kemampuan yang sama dalam berinteraksi & berkomunikasi dalam dunia digital. Maka terwujudlah sebuah dunia yang organik, yang diisi oleh orang-orang polos, orang-orang pandai & orang-orang jahat dalam satu wadah akbar. Mereka seluruh melakukan interaksi digital skala super akbar yang tidak dapat dikontrol satu per satu.

Tak dapat dipungkiri, Facebook sudah menjadi negara digital. Dan layaknya sebuah negara, salah satu tuntutan warga artinya terciptanya rasa kondusif & nyaman, bebas dari gangguan & kejahatan orang lain yang membisu-membisu menyelinap masuk ke dalam tempat tinggal.

Kita paham bahwa Mark & Facebook bukanlah orang jahat dalam sini. Tapi fakta bahwa puluhan juta data langsung dapat dieksplotasi buat tujuan tertentu sudah nisbi bagi para Facebooker buat memikirkan apa yang wajib mereka lakukan selanjutnya dalam Facebook.

Semoga ancaman itu tidak menjadi fenomena.

Sunday, March 25, 2018

Facebook Bakal Hapus Unggahan Pengemis 'Like' serta 'Share'

Facebook Bakal Hapus
Facebook Bakal Hapus Unggahan Pengemis 'Like' serta 'Share'

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah engkau melihat unggahan di Facebook berisi doa yg meminta pembacanya menyampaikan komentar "amin", membagikan, serta menekan tombol "like"?

Mulai minggu ini, Facebook berencana menghapus unggahan-unggahan semacam di atas, terutama unggahan yg mengajak orang lain mengklik tombol "like", memberi komentar, serta membagikannya kepada orang lain. Demikian Tekno Liputan6.com kutip menurut The Verge, Jumat (22/12/2017).

Uniknya, unggahan seperti di atas kerap kali muncul di News Feed poly pengguna. Hal itu alasannya adalah algoritma Facebook dipermainkan sang pembuat unggahan, seiring bareng tingginya interaksi poly terhadap unggahan, baik melalui jumlah "like", banyaknya komentar, juga dibagikan berkali-kali.

Facebook pun berencana buat menghapus unggahan-unggahan pengemis "like", komentar, serta "share". Kendati begitu, perusahaan memastikan unggahan yg sahih-sahih ditujukan buat membantu orang lain seperti kontribusi nir termasuk menjadi unggahan yg akan dihapus sang Facebook.

Disebutkan juga, jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg cs ini sudah meninjau serta mengategorikan seratus ribu lebih unggahan serta mengajarkan pada teknologi machine learning yg digunakannya buat mendeteksi bermacam-macam tipe unggahan yg memancing pengguna memberi "like", komentar, atau dibagikan.

Untuk menanganinya, Facebook akan mengimplementasikan metode ketat buat menghapus Pages yg terus-terusan berbagi unggahan pengemis "like".

"Kami akan terus mencari cara mengurangi unggahan yg meminta pengguna buat memberi tanda 'like', komentar, serta 'share'," kata Facebook dalam pernyataannya.

Selain itu, bareng menerapkan langkah ini, Facebook ingin mengurangi penyebaran konten yg bersifat spam, sensasional, serta menyesatkan. Tujuannya buat menghadirkan percakapan yg autentik.

Facebook menyebut, ketika ini unggahan yg memancing orang buat menyampaikan tanda "like" serta komentar sudah berkurang jumlahnya seiring penerapan metode ini.

Friday, March 23, 2018

Facebook akhirnya jawab surat Kominfo, ini isinya!

Facebook akhirnya jawab surat Kominfo, ini isinya!
Facebook akhirnya jawab surat Kominfo, ini isinya!

Facebook akhirnya menjawab surat menurut Kementerian Komunikasi & Informatika terkait penyalahgunaan data pengguna Indonesia yang melibatkan perusahaan Cambridge Analytica.

BERITA TERKAIT
Akun palsu FB 'Taj Yasin Maimoen' minta sumbangan buat pesta kemenangan
Akun Facebook Taj Yasin dipalsukan buat minta sumbangan pesta rakyat
Terbuai janji pernikahan, gadis di Surabaya tertipu laki-laki kenalan di FB

"Kami sudah menerima surat balasan menurut Facebook tertanggal 25 April 2018," tutur Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, dalam keterangan kepada Merdeka.com, Kamis (26/4).

Selain surat itu, lanjut Semuel, pihaknya pula mendapat kabar, bahwa terdapat petinggi Facebook yang akan datang ke Indonesia. "Mereka akan menjelaskan perkembangan lebih lanjut secara langsung kepada Menteri Kominfo," jelasnya.

Semuel pun membeberkan isi surat menurut Facebook itu. Isinya:

1. Facebook sudah melakukan pembatasan akses & pemutusan aplikasi pihak ketiga rata mirip CubeYOU & Aggregate IQ. Facebook sedang melakukan investigasi terhadap aplikasi pihak ketiga.

2. Proses audit yang dilakukan Facebook masih berjalan & akan membutuhkan waktu. Perkembangan proses audit akan diinformasikan kepada pemerintah Indonesia

"Pada prinsipnya, pemerintah dalam upaya buat mencegah terulangnya pergi penyalahgunaan data pribadi memakai melakukan pengenalan kepada warga. Pemerintah pula mempercepat penyelesaian draft final RUU Perlindungan Data Pribadi buat selanjutnya diserahkan ke DPR," jelasnya.

Sebelumnya Kemkominfo memperlihatkan empat permintaan kepada Facebook. Empat permintaan itu yakni:
Pertama, klarifikasi mengenai adanya warta penyalahgunaan data pengguna Facebook yang meluas ke firma analisis lain selain Cambridge Analytica, yaitu CubeYou & Aggregate IQ.

Kedua, penjelasan lebih lanjut mengenai tindakan teknis buat membatasi akses data di Facebook, mirip yang telah dijelaskan kepada surat menurut Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia tanggal lima April 2018.

Ketiga, memperlihatkan data jadwal &/atau implikasi audit kasus ini. Dan keempat, memperlihatkan data pengguna Facebook Indonesia yang terkena implikasi penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica. [ara]

Wednesday, March 21, 2018

Facebook akhirnya akui bahwa media umum 'lukai' demokrasi

Facebook akhirnya akui bahwa media umum 'lukai' demokrasi
Facebook akhirnya akui bahwa media sosial 'lukai' demokrasi

Facebook mungkin artinya jejaring sosial terbesar dikala ini. Namun makin akbar tentu makin akbar pula implikasi bagi para penggunanya.

BERITA TERKAIT
Mahasiswa Unnes kaget soal aturan wajib daftar akun medsos langsung ke kampus
KPU akui sulit tertibkan kampanye dalam medsos dikala masa damai
Sakit hati, pemuda dalam Gunungkidul sebar foto bugil selingkuhan via medsos

Hal ini terpancar menurut apa yg dikatakan seseorang petinggi Facebook dalam hari Senin (22/1) kemarin. Sang petinggi bahkan menyebut bahwa efek media sosial pula cukup kejam dalam demokrasi yg jadi landasan buat bebas berbicara.

"Pada 2016, kami dalam Facebook terlalu lamban buat mengenali bagaimana berbagai perilaku buruk dalam menyalahgunakan platform kami," tulis Samidh Chakrabarti, koordinator divisi engagement rakyat Facebook. "Kami bekerja menggunakan giat buat menetralisir risiko ini kini," lanjutnya.

Tentu 2016 merujuk dalam pemilu presiden AS dalam mana implikasi pemilu banyak ditentukan isu hoax serta keterlibatan Rusia yg hingga kini masih diivestigasi. Hal ini saja sanggup menggunakan praktis membuktikan bahwa platform Facebook punya celah buat disalahgunakan, & dalam duduk perkara ini, demokrasi dipertaruhkan.

"Mulai menurut kebangkitan dunia Arab (Arab Spring) hingga pemilu dalam semua belahan dunia, media sosial nampak selalu membawa implikasi positif. Namun kampanye presiden AS terakhir mengubahnya, menggunakan campur tangan asing & isu palsu, harusnya Facebook lebih cepat mengenalinya," ungkap Katie Harbath, petinggi Facebook yg menjabat direktur penjangkauan politik & pemerintahan dunia dalam perusahaan tersebut.

Chakrabarti pula menyebut bahwa nantinya Facebook akan memproduksi politik lebih transparan. Hal ini gagal dilakukan dalam 2016 kemudian, pasca yg terbaru terbukti bahwa muncul 80.000 postingan Facebook protesis Rusia yg berhasil menyasar 126 juta pengguna Facebook AS, & akhirnya para pemilih terpengaruh pilihannya.

Politik transparan ini akan dilakukan Facebook menggunakan cara mengarsipkan iklan pemilihan, dalam mana organisasi-organisasi yg menjalankan iklan terkait pemilu harus mengkonfirmasikan ciri-ciri mereka.

Chakrabarti pula menyebut bahwa isu hoax, pelecehan politik, serta partisipasi yg nir setara menurut masing-masing pemilih pula akan ditangani sang Facebook dalam waktu dekat. [idc]

Monday, March 19, 2018

Facebook & Youtube dilaporkan ke Bareskrim sebab memuat video cara bikin bom

Facebook & Youtube dilaporkan ke Bareskrim sebab memuat video cara bikin bom
Facebook & Youtube dilaporkan ke Bareskrim sebab memuat video cara bikin bom

Ketua Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia Sam Aliano menyambangi kantor Bareskrim Polri buat melaporkan media umum Youtube & juga Facebook. Laporannya tertuang dalam nomor laporan polisi: LP/B/692/V/2018/BARESKRIM, tanggal 24 Mei 2018.

BERITA TERKAIT
Konsumsi YouTube semakin tinggi 40 persen selama Ramadan
Jelang Ramadan, ini dikala prime time pengguna YouTube
XYZ Day: Gen Halilintar ungkap peran YouTube buat ekspresikan diri

Sam mengaku melapor sebab ke 2 media umum tadi tidak mengikuti anggaran yg timbul kepada Indonesia. Aturan yg dimaksudnya itu yakni tidak mau menutup konten-konten yg dianggap berbahaya buat masyarakat.

"Konten-konten itu mengajarkan para teroris cara bikin bom. Yang memfasilitasi mereka mampu belajar berdasarkan situ akhirnya rakyat mampu kena bahaya. Apalagi perusahaan ini mendapat penghasilan uang banyak berdasarkan Indonesia akan tetapi mereka enggak mau ikut anggaran Indonesia," tutur Sam kepada Kantor Bareskrim Polri kepada gedung Kementerian Kelautan & Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (24/lima).

Pria yg sempat bikin heboh sebab keinginannya menjadi capres melalui sejumlah iklan baliho ini menjamin andai tutur menjadi presiden bakal menutup kantor Youtube & juga Facebook. Setelah itu bakal diganti bersama Facebook khusus buat Indonesia.

"Saya harap berdasarkan ceramah-ceramah itu juga berdasarkan youtube membawa politik atau membawa komentar-komentar atau menghina agama atau mengkritik agama lain sebab memicu pertarungan. Ceramah yg timbul kepada dalam Youtube dilarang membawa isu yg timbul kepada timur tengah pertarungan itu ke Indonesia, sebab isu itu dipergunakan sang teroris buat mengajak orang buat berjihad," ungkapnya.

Sam menegaskan hanya pihak perusahaan Facebook & Youtube saja yg dilaporkan ke Bareskrim, bukan para pengunggah video.

"Pertegas perusahan bahwa mereka harus blokir konten-konten yg berbahaya bagi masyarakat atau angkat kaki berdasarkan Indonesia lebih baik sebab ini membahayakan masyarakat & ini bukan orangnya, akan tetapi perusahaannya eksklusif. Soalnya perusahaannya eksklusif yg bertanggungjawab buat memblokir atau memfasilitasi kepada masyarakat awam. Jadi perusahaan itu yg berhak buat memblokir," tegasnya.

Sam ingin agar pihak Bareskrim Polri segera memberi hukuman terhadap 2 perusahaan tadi andai tutur tidak memblokir konten-konten yg dianggap membahayakan masyarakat Indonesia.

"Tidak timbul duduk perkara penjara akan tetapi itu hanya kita menyampaikan hukuman. Sanksi izin itu ikut anggaran yg timbul Indonesia. Sanksinya harus tutup perusahaan bila tidak ikut peraturan, sebab ini negara Indonesia," tandasnya.

Sam melaporkan Youtube & Facebook bersama dugaan tindaka pidana Cyber Crime, UU nomor 19 tahun 2008 tentang warta & transaksi elektronik, 29 Undang-Undang Tentang Informasi & Transaksi Elektroni (ITE). [&]